Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Agama Islam. Tampilkan semua postingan

5 Nasehat Ibrahim Bin Adham Kepada Pelaku Maksiat

Suatu hari ada seorang lelaki yang menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata, ”Wahai Aba Ishak! Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasihat. Setelah mendengar perkataan tersebut Ibrahim berkata, ”Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh saja kamu melakukan maksiat.” Lelaki itu dengan penasaran bertanya. ”Apa saja syarat-syarat itu, wahai Aba Ishak?” Ibrahim bin Adham berkata,
Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezekinya.

Mendengar itu dia mengernyitkan kening seraya berkata, ”Lalu aku mau makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? ”Ya,” tegas Ibrahim bin Adham. ”Kalau kamu sudah memahaminya, masih pantaskah memakan rezekinya, sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya?”
Yang kedua,” kata Ibrahim, ”kalau mau bermaksiat, jangan tinggal dibumi-Nya!

Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, ”Wahai Abdullah, pikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu melanggar segala larangan-Nya?” ”Ya, Anda benar,” kata lelaki itu. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab,
”Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!”
5 Syarat Melakukan Maksiat
Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, ”Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?” ”Nah, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?” kata Ibrahim. Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat. Ibrahim melanjutkan,
”Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakanlah kepadanya, ‘Mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertobat dan melakukan amal saleh’.”

Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar, ”Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku?” ”Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Allah?” ”Baiklah, apa syarat yang kelima?” Ibrahim pun menjawab,
”Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya.”

Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar. Dia berkata, ”Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya.” Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. ”Mulai saat ini aku bertobat kepada Allah,” katanya sambil terisak.
Demi Allah semua perbuatan kita di dunia akan bersaksi………………..!!!!!!!!!

Kesombongan Pakaian Allah


"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali - kali tidak dapat menembus bumi dan sekali - kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.( QS.Al Israa’:37)
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang - orang yang sombong lagi membanggakan diri"( QS.Luqman:18)
Dari Ibnu Abbas RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman : Sombong itu adalah selendang-Ku dan kebesaran itu adalah pakaian-Ku, maka barangsiapa mencabut salah satunya dari-Ku, Aku akan melemparkan orang itu ke neraka”. [HR. Ibnu Majah,dlm Targhib wat Tarhib juz 3,hal.563]


Siapa Sebaik - baik manusia ?

Diriwayatkan dari Jabir berkata, "Rasulullah saw bersabda: Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik - baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain." ( HR. Thabrani dan Daruquthni )

Siapa Orang Yang Paling Utama Dan Paling Cerdas ?


Artinya: “Ya Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama ?” Beliau menjawab, “Orang yang paling baik akhlaknya”. Kemudian ia bertanya lagi, “Mukmin manakah yang paling cerdas ?” Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas“. (HR. Ibnu Majah)

Tauhid ( Mengesakan Allah )

Surat Al Qur'an yang menegaskan tentang Tauhid yaitu surat Al Ikhlas, yang berbunyi:

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQAwfHNfoNxv0A3FfGonFYR0-xwnvYUc33rJ8RNwNaSVGEEgI0CpQ
 Terjemahan Bacaan Surat Al Ikhlas:
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

Ya Allah Biha (Doa Husnul Khotimah)

ياالله بها ياالله بها ، ياالله بحسن الخاتمة

Yâ Allâh bihâ yâ Allâh bihâ, Yâ Allâh bihusnil khôtimah
Wahai Allah, dengan mereka (Ahlul Bait), wahai Allah dengan mereka, wahai Allah , berilah akhir yang baik (Husnul Khothimah)

Cara Tepat Bermanfaat Dengan Ilmu, Harta, Tahta / Jabatan

Dengan ilmu ajarkan
Dengan harta dermawan
Dengan tahta / jabatan amanah

Perbandingan Kenikmatan Dunia dan Akhirat

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bersabda:

" Demi Allah, DUNIA ini dibanding AKHIRAT ibarat seseorang yang mencelupkan JARINYA ke LAUT; air yang TERSISA di JARINYA ketika diangkat itulah NILAI DUNIA ( akhirat = LAUT ) " (HR Muslim).

" Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menciptakan 100 rahmat pada hari penciptaannya, maka ditahannya di sisiNya 99 rahmat dan dikirimNya kepada seluruh makhlukNya 1 rahmat, maka andai kata orang kafir mengetahui segala yang ada di sisi Allah dari rahmat tidaklah ia akan berputus asa dari surga dan andaikata orang beriman mengetahui segala yang ada di sisi Allah dari adzab tidaklah ia merasa aman dari neraka " (HR Bukhori dan Muslim)

Para Nabi dan Syuhada' pun Cemburu

Dari Abu Malik Al-Asy’ary, bahwa suatu ketika, setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan sholatnya, maka beliau menghadap ke arah orang-orang dan bersabda,”Wahai manusia, dengarkan, pikirkan, dan amalkanlah. Sesungguhnya Allah azza wajalla memiliki hamba-hamba, yang mereka itu bukan para nabi dan bukan pula syuhada’, namun para nabi dan syuhada’ berharap seperti diri mereka, yang duduk bersanding dan dekat dengan Allah.”

Lalu datang seorang arab Badui di pinggir kerumunan orang-orang lalu menunjukkan jarinya ke arah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata,”Wahai nabi Allah, ada orang-orang yang mereka itu bukan nabi dan bukan pula syuhada’, yang para nabi dan syuhada’ itu berharap sekiranya seperti mereka, karena kedekatan mereka dengan Allah. Beritahukanlah kepada kami bagaimana gambaran mereka ?”


Wajah beliau tampak berseri karena pertanyaan orang Badui tersebut. Maka beliau menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang tak pernah dikenal dan terasing dari keluarga dan kabilahnya. Mereka tidak diikat oleh hubungan kekerabatan, namun mereka saling mencintai karena Allah dan saling rukun. Allah meletakkan bagi mereka mimbar-mimbar dari cahaya, lalu mendudukkan mereka di atasnya. Lalu Allah membuat wajah mereka dari cahaya, membuat pakaian mereka dari cahaya, membuat manusia heran terhadap mereka pada hari Kiamat, sementara mereka sendiri tidak heran. Mereka adalah para Wali Allah yang tiada ketakutan atas diri mereka, dan mereka tidak bersedih hati.“(Musnad Imam Ahmad, 5/243)

Di hadits lain dikatakan :

Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya, didalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, dari wajah-wajah mereka bercahaya, mereka bukan para Nabi ataupun Syuhada'. Para Nabi dan syuhada'  iri kepada mereka. Ketika ditanya para sahabat, “Siapakah mereka ya Rasulullah ?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah saling bersahabat karena Allah dan saling berkunjung karena Allah.”
(HR Tirmidzi)

Kawan, sadarkah kita bahwa siap untuk berukhuwah berarti juga harus siap menerima segala perbedaan ? Mulai dari perbedaan pendapat, pemahaman, keragaman minat dan bakat, dan kemajemukan lainnya. Bersatu bukan berarti harus seragam harus selalu sesuai dengan visi dan misi hidup kita. Dua hal yang harus sama adalah akidah dan tujuan perjuangan kita, yaitu Islam dan ridho Allah Swt. Selebihnya adalah perbedaan yang akan menambah indah kehidupan kita bersama, keragaman yang akan memberi warna dalam setiap episode hidup kita. Bersaudara bukan berarti menolak perbedaan, menentang kemajemukan. Bukankah perbedaan itu sudah ada sejak generasi pertama agama ini. Lihatlah bagaimana para khulafaur rasyidin dengan lapang dada menerima perbedaan di antara mereka, tanpa ada rasa dendam, fitnah atau caci maki.

Mari kita rajut kembali ukhuwah itu dengan semangat keikhlasan dan tentu saja dorongan iman. Marilah kita membuka mata lebar-lebar dan mendengarkan dengan seksama agar kita terhindar dari segala perpecahan. Saudara-saudara kita bukanlah semata yang ada dalam kelompok kita atau dalam lingkungan masyakarakat terdekat kita saja. Perbedaan pendapat adalah kewajaran karena setiap pribadi manusia adalah unik dan memiliki ciri khasnya masing-masing.

Abul-Aswad berkata :
Cintailah kekasihmu
Dengan cinta yang sederhana
Karena kamu tidak tahu
Kapan ia menjauhimu
Jika harus benci, maka bencilah
Tapi jangan menjauhi
Karena kamu tidak tahu
Kapan harus kembali
Alangkah sempitnya hati kita dan dangkalnya pikiran kita seandainya menganggap ukhuwah adalah sebuah keseragaman, dengan menafikan perbedaan. Ayo kita bersama rajut keindahan ukhuwah Islamiyah yang sejati itu.

KISAH – Ketika Nabi Isa Ingin Jadi Umat Nabi Muhammad

Suatu hari, Nabi Isa berjalan menuju puncak sebuah gunung untuk beribadah. Di sana, ia menemui batu besar putih yang warnanya mirip air susu. Nabi mengamati keindahannya dengan mengitarinya secara perlahan. Belum selesai mengitarinya, Allah lalu berfirman, “Wahai Isa, senangkah engkau jika Aku menunjukkan padamu sesuatu yang menakjubkan?”

“Tentu, wahai Tuhanku.”

Tidak lama kemudian batu besar itu terbelah dengan sendirinya. Tampaklah di dalamnya seorang laki-laki yang sedang sholat, rambutnya telah memutih, di sisinya sebuah tongkat biru dan anggur segar. Setelah beribadah, Nabi Isa menyapanya. “Wahai Syekh, bagaimana Anda bisa bertahan hidup di dalam batu ini?”

“Bukankah Anda melihat anggur segar di hadapanku? Inilah rezkiku sepanjang hari,” kata manusia dari dalam batu itu.

“Sejak kapan Anda beribadah pada Allah di dalam batu ini?” tanya Nabi Isa kembali.

“Sejak empat ratus tahun lalu.”

“Ya Allah,” kata Nabi spontan dengan suara parau dan penuh rasa takjub. Putra Maryam as itu melanjutkan, “Sungguh, saya tidak mampu membayangkan ada makhluk Allah yang lebih mulia darimu.”

Kemudian Allah menurunkan wahyu pada Isa, “Sesungguhnya kelak akan datang suatu umat, yaitu umat Muhammad saw. Jika mereka beribadah pada-Ku dengan sungguh-sungguh, kedudukan mereka lebih mulia di sisi-Ku daripada orang yang beribadah selama empat ratus tahun ini.”

“Ya Allah, betapa beruntungnya umat Muhammad dan betapa bahagianya saya jika Engkau menjadikanku sebagai bagian dari umat Muhammad,” kata Nabi Isa separuh meminta.

Sifat Jaiz Allah Dan Rasul

Sifat jaiz Allah Fi'lu kulli mumkinin au tarkuhu, artinya Allah itu berwenang untuk menciptakan dan berbuat sesuatu atau tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Sifat jaiz rasul A'radhul basyariyah, artinya sifat-sifat sebagaimana manusia akan tetapi sifat-sifat tersebut tidak sampai mengurangi derajadnya rasul.

Allah Ingin Dikenal

" Aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Aku ingin dikenal, maka kuciptakan makhluk. ( Hadits Qudsi )

Dialog Allah Dengan Akal Dan Nafsu

Dalam sebuah kitab karangan ‘Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahawa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal, maka Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud : “Wahai akal menghadaplah engkau.” Maka akal pun menghadap kehadapan Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Wahai akal berbaliklah engkau!”, lalu akal pun berbalik.
Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : “Wahai akal! Siapakah aku? ”Lalu akal pun berkata, “Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah.”
Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : “Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau.”
Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : “Wahai nafsu, mengadaplah kamu!”. Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Lalu nafsu berkata, “Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau.”
Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud :
“Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Lalu nafsu berkata, “Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.”
Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu' (neraka lapar) selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud :
“Siapakah engkau dan siapakah Aku? ”Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, ”Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah tuhanku.”
Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahwa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T mewajibkan puasa.
Dalam kisah ini dapatlah kita mengetahui bahwa nafsu itu adalah sangat jahat oleh itu hendaklah kita mengendalikan nafsu, jangan biarkan nafsu itu mengendalikan kita, sebab kalau dia yang mengawal kita maka kita akan menjadi musnah.

Sabar Itu Ada Tiga

1. Sabar terhadap musibah.
Barang siapa yang sabar terhadap musibah, sehingga dia menghadapinya dengan tabah, maka Allah akan menulis baginya tiga ratus derajat. Antara derajat yang satu dengan derajat yang lain seperti jarak antara langit dan bumi.

2. Sabar menjalankan ketaatan kepada Allah.
Barangsiapa yang bersabar menjalankan ketaatan kepada Allah, maka Allah akan menulis baginya enam ratus derajat. Jarak antara satu derajat dengan derajat yang lain adalah seperti antara batas bumi dan 'arsy.

3. Sabar dalam meninggalkan maksiat.
Barangsiapa yang bersabar meninggalkan maksiat, maka Allah akan menulis baginya sembilan ratus derajat. Jarak antara satu derajat dengan derajat yang lain adalah seperti dua kali jarak antara batas bumi dan 'arsy.

Cara Melihat Dunia Dan Akhirat

Kalau melihat dunia, lihatlah ke bawah. Kalau melihat akhirat, lihatlah ke atas.

Kisah Taubat Laki-Laki Pembunuh 100 Orang

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dahulu sebelum kalian ada seorang (dari bani Israil) yang telah membunuh 99 jiwa. Kemudian ia bertanya siapa yang paling tahu tentang agama yang ada di dunia ini. Lalu ditunjukkan kepadanya seorang rahib (ahli ibadah). Ia pun mendatanginya dan menjelaskan, bahwa dirinya telah membunuh 99 jiwa, apakah ada kesempatan untuk taubat bagi dirinya? Rahib itu menjawab, “Tidak.” Akhirnya ia membunuh rahib itu sekalian, sehingga lengkaplah seratus jiwa yang telah melayang di tangannya. “
Kemudian ia kembali bertanya tentang orang yang paling tahu agama yang ada di dunia ini. Lalu ia ditunjukkan kepada seorang yang alim (berilmu). Orang itu bercerita, bahwasanya ia telah menebas 100 jiwa, apakah masih ada kesempatan bertaubat baginya? Seorang alim itu menjawab, “Ya, ada, siapa yang menghalangi dirimu untuk bertaubat? Pergilah engkau ke kampung ini, karena sesungguhya di sana ada sekelompok manusia yang beribadah hanya kepada Allah semata, beribadahlah kepada Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke kampungmu yang dulu, karena kampung itu adalah kampung yang buruk.“
Lalu ia pun pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Tatkala sampai di tengah perjalanan, ternyata kematian datang menjemputnya. Kemudian malaikat rahmat dan malaikat azab berseteru tentang status orang ini.
Malaikat rahmat berkata: “Dia datang dalam keadaan bertaubat kepada Allah seraya menghadapkan hatinya kepada-Nya.” Malaikat azab berkata: “Sesungguhnya ia belum pernah mengerjakan kebaikan sama sekali.”
Kemudian datanglah malaikat yang berwujud manusia, lalu ia dijadikan sebagai hakim (pemutus perkara) di antara mereka berdua. Malaikat yang berwujud manusia itu berkata: “Ukurlah jarak antara dua kampung tersebut. Ke arah mana ia lebih dekat, maka berarti ia lebih berhak di masukkan ke sana.”
Lalu mereka mengukurnya dan mendapati orang itu lebih dekat kepada kampung tujuan. Akhirnya ia dibawa oleh malaikat rahmat. (muttafaq ‘alahi)
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Maka ia lebih dekat sejengkal dengan kampung yang baik itu, dan ia pun digolongkan ke dalam penduduknya.“
Di dalam riwayat yang lain pula disebutkan, “Kemudian Allah mewahyukan kepada bumi untuk menjauhkan jarak dari kampung halamannya dan mendekatkan kepada kampung tujuan.”
Lalu malaikat yang berupa manusia itu berkata: “Hitunglah jarak antara keduanya.” Ternyata mereka mendapati orang itu sejengkal lebih dekat ke kampung tujuannya. Akhirnya ia pun diampuni. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kisah Pelacur Yang Masuk Surga Karena Memberi Minum Anjing Yang Kehausan

Sesungguhnya, setiap orang beriman berhak atas surga. Tak peduli apa statusnya. Orang yang mulia atau mereka yang hina-dina. Karena surga adalah milik Allah, maka terserah kepada Allah, siapa yang diridhoi-Nya untuk masuk ke dalam surga-Nya itu. Dan Rasulullah SAW telah mengindikasikan bahwa seorang ahli ibadah tidak serta-merta mendapat jaminan akan masuk surga, karena surga lebih diutamakan bagi mereka yang mencintai Allah dengan sesungguh-sungguhnya kecintaan. Seperti juga kita, maka pastilah kita lebih suka kepada orang yang kita sukai untuk datang ke rumah kita, daripada mereka yang selalu memuja-muji kita – dengan niat bergelimang pamrih. Demikianlah juga Allah memilih mereka yang lebih dicintai-Nya. Dan Dia Maha Mengetahui akan segala yang tertampak pada lahir dan terbersit dalam batin....
Maka, hendaknya kita tidak jadi merasa heran saat mengetahui bahwa Allah telah memasukkan seorang pelacur ke dalam surga-Nya yang mulia. Karena Dia sungguh mengetahui apa-apa yang selayaknya dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya. Tapi, bagaimana ceritanya kok seorang pelacur bisa sampai masuk ke surga? Silakan menyimak riwayat berikut ini. Semoga menjadi pelajaran dan teladan bagi kita, untuk meraih ridho Allah.
Pada suatu hari, dalam suatu majelis, seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai, Rasulullah. Apakah hanya orang-orang ahli ibadah saja yang akan masuk surga?”
Dengan tegas Rasulullah menjawab, “Tidak. Sesungguhnya, seseorang itu masuk surga bukan semata-mata karena ibadahnya, melainkan karena ketulusan cintanya kepada Allah.”
Penasaran, orang itu bertanya lagi, “Apa itu berarti... hanya para aulia dan alim-ulama saja yang akan masuk surga?”
Rasulullah kembali menegaskan, “Tidak, bukan begitu. Karena sesungguhnya telah ada seorang pelacur yang masuk ke surga.”
Keruan saja semua yang hadir di majelis itu jadi kaget dan bertanya-tanya. Maka Rasulullah lalu menceritakan mengenai pelacur itu.
Suatu hari, di tengah suatu musim kemarau yang amat kering, tutur Rasulullah, ada seekor anjing liar yang hampir mati kehausan. Anjing ini amat buruk rupanya dan penuh kudis badannya. Karena amat hausnya, anjing itu sampai menjilat-jilat tanah lembab di depan rumah seorang ulama terkenal. Melihat makhluk menjijikkan itu, si ulama segera mengusirnya dan bahkan melemparinya dengan batu.
Anjing itu lari ketakutan sampai ke luar desa, dan akhirnya – karena lelah dan kehausan – hewan malang itu ambruk di pinggir sumur. Nampaknya, tak ada harapan lagi buat anjing itu. Dia pasti mati kalau tidak segera mendapatkan minum. Namun di saat kritis itu, lewat seorang pelacur. Ia melihat anjing itu, terbaring putus asa dengan lidah terjulur dan napas tersengal-sengal, dan ia merasa iba. Maka, ia lalu melepas terompahnya (alas kakinya) dan merobek gaunnya. Dengan sobekan gaun dan terompah itu ia lantas membuat timba untuk mengambil air dari sumur, lalu memberi anjing itu minum.
Setelah puas minum, anjing itu sehat kembali dan lantas pergi. Si Pelacur merasa gembira melihat anjing itu tidak jadi mati kehausan. Melihat apa yang telah diperbuat oleh hamba-Nya yang pelacur itu, Allah mengatakan kepada malaikatnya: “Catatlah hamba-Ku itu. Dia adalah salah satu hamba-Ku yang akan masuk surga pertama.”
“Subhanallah...!” puji orang-orang yang hadir dalam majelis itu, dengan harapan baru tumbuh dalam hati mereka akan kasih sayang Allah.
Dan kita... apa yang telah kita lakukan sehingga kita punya harapan untuk layak memperoleh anugerah sehebat itu dari Allah?

Allah Milik Siapa ?

Diriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah ketika malam Isra’ Mi’raj nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berhadapan dengan Allah, dan Allah berfirman kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “wahai Muhammad, langit itu milik siapa?”, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “milik-Mu wahai Allah”, kemudian Allah bertanya lagi : “Bumi milik siapa?”, nabi menjawab : “milik-Mu wahai Allah”, lalu Allah subhanahu wata’ala bertanya lagi : “dan engkau milik siapa wahai Muhammad?” nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “milik-Mu wahai Allah”, kemudian Allah bertanya lagi : “dan Aku milik siapa wahai Muhammad?”, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjawab namun beliau hanya menunduk, maka Allah berkata : “Aku adalah milik hamba-hamba-Ku yang bershalawat kepadamu wahai Muhammad”. Sungguh beruntung ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang bershalawat kepadanya. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

( الأحزاب : 56 )


“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. ( QS. Al Ahzaab : 56 )

Siapa Orang Yang Iblis Menyerah Untuk Menyesatkannya ?

Hanya orang-orang yang ikhlas yang akan selamat, bahkan iblis pun menyerah kepada orang-orang yang ikhlas. Seperti yang tersirat dalam percakapan antara Allah dan iblis dalam Al-quran surat shad ayat 82-83. Saat itu iblis terusir dari surga karena kesombongannya.

"Iblis menjawab, "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas diantara mereka." (QS Shad: 82-83).

Siapa Orang Yang Paling Kaya ?

 مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

"Barang siapa memasuki pagi harinya dengan perasaan aman di rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah - olah dunia dan seisinya telah menjadi miliknya." ( HR. Al - Tirmidzi )